Raditya Dika dan Cerita-Ceritanya: Menulis, Merencanakan, Bermain Game, dan Bertahan di Zaman yang Cepat Berubah - Fauziah Rachmawati | Pendidik dan Penulis

Breaking

Iklan

Minggu, 19 April 2026

Raditya Dika dan Cerita-Ceritanya: Menulis, Merencanakan, Bermain Game, dan Bertahan di Zaman yang Cepat Berubah

Raditya Dika dan Cerita-Ceritanya: Menulis, Merencanakan, Bermain Game, dan Bertahan di Zaman yang Cepat Berubah

Raditya Dika dan Cerita-Ceritanya: Menulis, Merencanakan, Bermain Game, dan Bertahan di Zaman yang Cepat Berubah

Ada satu cara sederhana untuk menebak apakah seseorang sudah merasa “tua” di internet: seberapa sering dia bertanya, “Ini AI bukan?” Makin sering pertanyaan itu keluar, biasanya makin terasa jarak generasinya.

Lelucon itu memang ringan, tetapi ada hal serius di belakangnya. Kita sedang hidup di masa ketika teknologi mengubah cara orang mengonsumsi konten, mengubah pekerjaan, mengubah industri kreatif, bahkan mengubah cara kita memaknai keaslian. Dalam situasi seperti ini, satu hal jadi makin penting: punya visi, punya rencana, dan tetap mau belajar.

Itu yang terasa kuat ketika membahas banyak hal bersama Raditya Dika. Obrolannya bergerak dari pergeseran teks ke video, proses menulis, pentingnya editor, kebiasaan membuat rencana cadangan, sampai soal game, transportasi umum, dan kuis bahasa baku. Campur aduk, tetapi justru di situlah serunya. Ada benang merah yang jelas: orang kreatif tidak cukup hanya kreatif, ia juga harus lentur, rendah hati, dan siap menghadapi perubahan.

Mengapa orang beralih dari teks ke visual?

Peralihan dari teks ke video sering dibahas seolah-olah itu murni soal selera. Padahal, ada faktor yang sangat praktis: teknologi akhirnya memungkinkan.

Dulu, konten video panjang bukan format yang mudah dinikmati. Hosting mahal, kuota internet mahal, dan aksesnya terbatas. Wajar kalau dulu banyak orang hidup di dunia teks, seperti blog atau Twitter pada masa awal. Sekarang situasinya berbeda. Koneksi lebih murah, platform lebih siap, dan orang bisa mengakses video panjang tanpa merasa sedang membakar jatah internet sebulan.

Dari situ lahir fenomena yang sekarang terasa biasa: podcast ada di mana-mana, wawancara panjang jadi konsumsi harian, dan konten visual bukan lagi pelengkap, melainkan arus utama.

Namun perubahan ini bukan berarti teks mati. Yang berubah adalah cara orang mengonsumsi. Konten panjang masih bisa hidup, hanya saja orang sering menikmatinya sambil melakukan hal lain. Ada yang mendengarkan sambil naik sepeda statis, sambil treadmill, sambil bekerja di layar kedua, atau sambil mengerjakan aktivitas rumah. Jadi, konten panjang tetap relevan, tetapi kini sering hadir sebagai teman aktivitas, bukan satu-satunya fokus perhatian.

Attention span makin pendek, tetapi bukan berarti orang tak mau konten panjang

Sering ada kekhawatiran bahwa rentang perhatian manusia menurun drastis. Angkanya bisa diperdebatkan, tetapi secara pengalaman sehari-hari, banyak orang memang merasa lebih sulit memberi perhatian penuh pada satu hal dalam waktu lama.

Menariknya, ini tidak otomatis berarti orang hanya mau konten pendek. Yang lebih tepat, mungkin begini: orang masih mau konten panjang, tetapi cara menikmatinya berubah.

Karena itu, kreator perlu peka terhadap perilaku audiens. Misalnya, untuk konten obrolan panjang, tidak semua hal perlu dibungkus dengan potongan dramatis, intro heboh, atau cuplikan beruntun sebelum masuk isi. Kadang justru yang paling tepat adalah langsung masuk ke pembicaraan inti. Lalu dari situ, materi panjang tadi bisa diturunkan menjadi klip-klip pendek agar lebih mudah ditemukan dan dibagikan.

Ini bukan sekadar soal mengikuti tren, tetapi soal memahami perilaku konsumsi. Orang yang ingin menggali konteks akan menikmati versi panjang. Orang yang baru kenal idenya bisa masuk lewat potongan pendek.

Masalah terbesar konten yang dipotong-potong: konteks hilang, atau lebih parah, konteks baru diciptakan

Di era klip pendek dan potongan viral, masalahnya bukan hanya konteks yang hilang. Kadang lebih buruk: konteks baru sengaja dibangun.

Seseorang bisa bicara tentang satu topik, lalu potongannya diputar seolah-olah ia sedang menyerang topik lain. Atau audiens memahami konteks aslinya, tetapi lalu menambahkan asumsi sendiri sampai keyakinan baru terbentuk. Dari satu cuplikan, orang bisa menyimpulkan sikap yang sebenarnya tidak pernah diucapkan.

Risiko ini makin besar ketika teknologi AI bisa mengubah suara, ekspresi, atau isi ucapan. Maka wajar kalau sekarang banyak orang lebih curiga dan sering bertanya apakah sesuatu itu asli atau hasil rekayasa.

Bagi pembuat karya, tantangannya bukan kecil. Selalu ada jarak antara apa yang dimaksud dan apa yang ditangkap. Dan di zaman sekarang, jarak itu bisa makin lebar karena dipelintir oleh potongan, framing, atau teknologi.

Pelajaran menulis yang paling penting: jangan jatuh cinta buta pada naskah sendiri

Salah satu bagian paling menarik adalah cerita tentang pertemuan dengan editor, Windy Ariestanty. Pengalaman ini penting karena menunjukkan satu hal yang sering dilupakan penulis muda: bakat dan keberhasilan awal bisa membuat orang terlalu cepat percaya diri.

Setelah buku pertama sukses besar, ada rasa bahwa keberhasilan itu murni datang dari kemampuan sendiri. Apalagi ketika naskah pertama nyaris tidak banyak disentuh editor. Dalam posisi seperti itu, sangat mudah merasa, “Ya memang saya bisa.”

Lalu datang editor baru, membawa bolpoin merah, dan mengatakan naskah berikutnya masih belum bagus.

Tentu reaksinya bukan rasa syukur. Reaksinya kesal.

Namun setelah naskah itu didiamkan beberapa bulan lalu dibuka lagi, baru terlihat bahwa coretan-coretan tadi benar semua. Kalimat tidak efektif. Paragraf tidak jelas gagasannya. Dialog belum ramping. Masalahnya nyata, dan editor melihatnya dengan tajam.

Dari sana lahir pengalaman yang sangat merendahkan ego, tetapi justru menyelamatkan. Kalau saat itu yang ditemui adalah orang-orang yang hanya mengiyakan, kemungkinan besar proses bertumbuh akan terhambat. Kadang yang paling dibutuhkan penulis bukan pujian, melainkan pembaca pertama yang jujur.

Kalau kita berhenti mendengarkan masukan, karya tidak akan jadi lebih baik.

Pelajaran ini terasa terus terbawa sampai bertahun-tahun kemudian. Bahkan ketika sudah punya karier panjang, tetap ada kebutuhan untuk diedit oleh mata yang segar, termasuk editor yang lebih muda. Bukan karena pengalaman sendiri tidak penting, tetapi karena setiap naskah tetap punya titik buta.

Penulis tidak harus menguasai semua hal teknis untuk mulai menulis

Ada pertanyaan yang menarik: apakah penulis harus paham betul ejaan, tata tulis, dan seluruh aspek teknis sebelum bisa menulis?

Jawabannya tidak sesederhana ya atau tidak. Dalam pandangan yang sangat praktis, penulis pertama-tama adalah orang yang punya visi dan punya cerita. Ia tahu mau menulis apa, suasananya bagaimana, arahnya ke mana.

Soal teknis memang penting, tetapi tidak selalu harus menjadi syarat untuk mulai. Di situlah editor berperan. Editor adalah pembaca awal yang membantu naskah menjadi lebih tajam, lebih rapi, dan lebih efektif.

Tentu tetap ada gaya yang sengaja dipertahankan penulis. Misalnya penggunaan tanda petik tunggal untuk dialog demi alasan estetika, agar halaman terasa lebih “lega” dan tidak sumpek. Secara umum orang terbiasa dengan tanda petik ganda, tetapi gaya selingkung pribadi kadang memang lahir dari preferensi visual dan rasa. Menariknya, gaya semacam ini ternyata juga punya padanan dalam praktik penerbitan berbahasa Inggris tertentu.

Dari sini terlihat bahwa menulis bukan hanya urusan benar atau salah. Ada wilayah teknik, ada wilayah kebiasaan penerbit, dan ada wilayah artistik. Penulis perlu tahu mana yang bisa dibantu editor, dan mana yang memang harus ia pertahankan karena itu bagian dari suaranya.

Minimalisme sebagai cara melihat dunia

Alasan memilih tanda petik tunggal karena “ingin melihat lebih banyak ruang putih” terdengar sepele, tetapi sebenarnya membuka hal lain. Itu bukan cuma soal tanda baca. Itu cara memandang estetika.

Ada orang yang nyaman dengan tampilan ramai. Ada yang justru lebih tenang jika ruang terlihat lega. Pilihan ini bisa muncul di halaman buku, studio podcast, ruang kerja, sampai rumah tinggal.

Minimalisme di sini bukan gaya hidup pamer kesederhanaan. Lebih seperti kebutuhan mental: ruang yang tidak terlalu penuh membantu pikiran tetap jernih. Dalam kerja kreatif, itu bisa berarti banyak.

Menulis sebagai latihan kognitif, bukan sekadar produksi karya

Kebiasaan menulis rutin, termasuk di platform seperti Medium, juga dibicarakan dengan sangat menarik. Menulis setiap hari atau secara konsisten tidak selalu harus dilihat sebagai proyek besar. Kadang itu seperti jogging.

Bukan untuk memecahkan rekor, melainkan untuk menjaga kebugaran. Bedanya, yang dilatih adalah cara berpikir, kepekaan merangkai gagasan, dan kelincahan mengolah bahasa.

Kalau sudah terbiasa menulis, justru tidak menulis bisa terasa aneh. Seolah ada otot yang lama tidak dipakai.

Fokus kerja: dua hal saja, tetapi dikerjakan serius

Di tengah banyaknya kemungkinan, justru ada keputusan yang cukup tegas: untuk satu periode tertentu, fokus hanya pada dua hal, yaitu stand-up comedy dan podcasting.

Ini menarik karena sering kali orang kreatif tergoda melakukan banyak eksperimen sekaligus. Padahal tidak semua fase harus dipenuhi percobaan baru. Kadang yang lebih penting adalah menyederhanakan fokus agar energi tidak pecah.

Contohnya jelas. Satu tur stand-up masih berjalan, tetapi materi untuk tur berikutnya sudah mulai disiapkan. Podcast juga tidak dikelola secara spontan semata, melainkan dengan perencanaan yang panjang. Ada arah tahunan, ada target, ada peta kerja.

Bagi orang luar, ini mungkin terdengar terlalu rapi. Tetapi justru di industri yang penuh ketidakpastian, kerangka semacam ini sangat masuk akal.

Harus punya solusi meskipun masalah belum ada

Kalimat ini mungkin salah satu yang paling menempel:

Kamu harus punya solusi meskipun masalah enggak ada.

Kedengarannya berlebihan, tetapi sebenarnya itulah inti dari kebiasaan merencanakan. Bukan paranoid, melainkan sadar bahwa banyak hal bisa berubah tiba-tiba. Platform bisa tutup. Pekerjaan bisa tergeser AI. Jadwal bisa berantakan. Kondisi kesehatan bisa drop. Lokasi bisa bermasalah.

Kalau semua baru dipikirkan saat masalah datang, biasanya sudah terlambat.

Maka penting punya:

  • Plan A untuk kondisi ideal
  • Plan B jika ada hambatan utama
  • Plan C jika hambatan itu ternyata lebih parah dari dugaan

Ini berlaku bukan cuma untuk bisnis besar. Liburan pun bisa direncanakan seperti itu. Tahu rumah sakit terdekat di mana, itinerary disusun, kemungkinan gangguan dipikirkan lebih awal.

Mitigasi risiko dan business continuity, versi kehidupan nyata

Ada dua konsep yang terasa sangat hidup di sini: manajemen risiko dan business continuity management.

Manajemen risiko bertanya: kalau sesuatu yang buruk terjadi, apa yang dilakukan?

Business continuity management bertanya: apa pun yang terjadi, bagaimana supaya kegiatan tetap jalan?

Contohnya sangat konkret. Bayangkan sudah datang subuh ke lokasi syuting dengan daftar tujuh adegan yang harus diselesaikan hari itu. Semua siap. Lalu genset meledak. Lampu tidak bisa dipakai. Secara teori, jadwal hancur.

Kalau tidak ada fleksibilitas, produksi bisa gagal total. Tetapi jika tim terbiasa berpikir mitigatif, solusi langsung dicari. Adegan luar ruang didahulukan sambil menunggu genset pengganti datang. Adegan dalam ruang diubah. Susunan syuting disusun ulang. Hari kerja tetap berjalan.

Hal yang sama berlaku di panggung. Kalau kondisi fisik drop, tetap perlu berpikir, “Apa yang harus dilakukan supaya acara tidak runtuh?” Bahkan sampai bercanda soal mencari popok dewasa kalau mendadak diare di area pertunjukan. Terdengar ekstrem, tetapi logikanya jelas: pertunjukan harus tetap berlangsung.

Lucunya, ada pengalaman aneh yang sangat bisa dipahami banyak pekerja panggung. Saat tubuh sedang sakit, demam, bahkan akhirnya terdiagnosis tifus, gejala itu bisa seperti menghilang ketika sudah naik panggung. Begitu turun, tubuh kembali menagih.

Meski begitu, kesiapan tetap penting. Vaksin tifus, vaksin DBD, dan perlindungan lain bukan hal remeh ketika mobilitas tinggi. Lagi-lagi, ini bagian dari perencanaan.

Perencanaan keuangan bukan sikap pesimistis, melainkan bentuk bertanggung jawab

Ketika dunia berubah cepat, perencanaan keuangan menjadi salah satu bentuk mitigasi yang paling masuk akal. Apalagi kalau profesinya sering dianggap tidak pasti, seperti penulis atau seniman.

Banyak orang kreatif sejak awal sudah ditakut-takuti: nanti hidup susah, nanti penghasilannya tidak stabil, nanti masa depannya tidak jelas. Entah itu karena orang lain peduli atau hanya mengulang stereotip lama, efeknya bisa menetap cukup dalam.

Bagi orang yang memang cenderung perencana, responsnya adalah mulai menata keuangan sejak dini. Termasuk belajar lebih serius soal pasar modal, sertifikasi, dan pengelolaan portofolio sendiri.

Ini bukan berarti semua penulis harus jadi ahli investasi. Tidak juga. Tetapi ada pesan penting di sini: jangan menyerahkan seluruh masa depan pada nasib baik.

Kalau platform tempat kita berkarya tiba-tiba berubah, kalau industri bergeser, kalau teknologi mengambil sebagian pekerjaan, setidaknya kita punya cadangan, opsi, dan ruang bernapas.

Game bukan cuma hiburan, tetapi juga alat belajar

Pertanyaan soal game dijawab dengan antusias, dan memang ada banyak hal menarik di situ. Bermain game sering dianggap membuang waktu, padahal pengaruhnya bisa cukup besar, terutama jika jenis game yang dimainkan kaya cerita dan sistem.

1. Game bisa mengasah bahasa Inggris

Game role-playing seperti Final Fantasy dan sejenisnya membuat pemain terus-menerus terpapar kosakata, dialog, dan konteks bahasa. Kalau dimainkan sejak kecil, efeknya bisa nyata sekali. Kemampuan membaca dan memahami bahasa Inggris berkembang bukan karena menghafal daftar kata, tetapi karena digunakan dalam petualangan yang menyenangkan.

2. Game melatih imajinasi

Dalam game, seseorang bisa menjadi banyak hal: petani, wali kota, manajer klub bola, petualang, bard, pencuri, pemahat, apa saja. Dunia permainan memberi ruang untuk membayangkan skenario, mengambil keputusan, dan melihat konsekuensinya.

3. Game bisa membuat emosi ikut bermain

Ada sisi lucu juga. Bermain game seperti Stardew Valley bisa membuat pemain benar-benar baper. Sudah capek bertani, lalu karakter yang disukai malah berkomentar bahwa badan kita bau. Hadiah batal diberikan, hati terluka, lalu cari pasangan lain di desa. Konyol, tetapi justru menunjukkan bahwa game bisa menciptakan keterikatan emosional yang nyata.

4. Game menciptakan waktu bahagia

Ini mungkin manfaat yang paling sederhana sekaligus paling jujur. Game memberi kebahagiaan. Kadang itu sudah cukup penting.

Dungeons and Dragons dan kenikmatan collaborative storytelling

Salah satu bentuk bermain yang sangat dekat dengan dunia menulis adalah Dungeons and Dragons. Di sini, permainan bukan sekadar menang atau kalah, melainkan membangun cerita bersama.

Ada game master yang menyiapkan dunia dan situasi. Lalu tiap pemain membawa karakter masing-masing dengan kepribadian, tujuan, dan cara bertindak sendiri. Dari sana, cerita berkembang melalui keputusan spontan.

Kalau seorang pemain memerankan pencuri dan ingin masuk rumah lewat jendela, game master akan merespons situasi itu. Apakah jendelanya terbuka, apakah ada penjaga, apakah terdengar suara dari dalam, dan seterusnya. Cerita lalu terbentuk bukan dari naskah tunggal, melainkan dari interaksi antarpemain.

Bagi penulis, ini sangat menarik karena menjadi latihan cerita kolaboratif. Bukan hanya menulis alur, tetapi juga bereaksi terhadap alur yang diciptakan orang lain.

Bahasa baku, kebiasaan lisan, dan jebakan yang sering tidak disadari

Di bagian akhir, pembicaraan masuk ke kuis bahasa baku. Seru, karena memperlihatkan satu kenyataan penting: bahasa sehari-hari dan bahasa baku tidak selalu sejalan.

Beberapa contoh yang dibahas:

  • cendera mata, bukan cenderamata
  • izin, bukan ijin
  • kedaluwarsa, bukan kadaluwarsa
  • memengaruhi, bukan mempengaruhi
  • sintesis, bukan sintesa

Mengapa “memengaruhi” sering salah ditulis?

Karena banyak orang lupa bahwa huruf awal pada kata dasar bisa luluh. Dari kata pengaruh, bentuk berimbuhnya menjadi memengaruhi, bukan “mempengaruhi”. Ini salah satu contoh yang sering dibetulkan editor dan akhirnya menempel kuat dalam ingatan.

Mengapa ada kata gabungan yang ditulis serangkai, padahal logikanya mestinya dipisah?

Ini bagian yang sangat menarik. Dalam bahasa Indonesia, umumnya gabungan kata memang ditulis terpisah. Namun ada sejumlah pengecualian seperti kacamata, matahari, atau olahraga.

Salah satu penjelasan historisnya berkaitan dengan standar awal kamus bahasa Melayu yang dipengaruhi kebiasaan penulisan seorang penyusun Belanda. Akibatnya, beberapa bentuk gabungan telanjur diwariskan sebagai bentuk serangkai. Jadi, kalau terasa “aneh”, memang karena secara sejarah ada anomali.

Mengapa orang masih bilang “sintesa” atau “analisa”?

Ini berkaitan dengan perubahan acuan ejaan dan pengaruh bahasa. Generasi yang lebih tua banyak tumbuh dengan bentuk yang dipengaruhi tradisi Belanda, seperti “sintesa”, “diagnosa”, dan “hipotesa”. Belakangan, penggunaan baku bergeser mengikuti bentuk yang lebih dekat ke bahasa Inggris, seperti “sintesis”.

Karena perubahan bahasa tidak selalu langsung merata ke masyarakat, bentuk lama tetap bertahan sampai sekarang.

Ada satu kualitas yang menyatukan semua hal ini: mau terus dikoreksi

Kalau semua topik tadi diringkas, dari konten video, menulis, editor, keuangan, manajemen risiko, game, sampai bahasa baku, ada satu kualitas yang terus muncul: kerendahan hati untuk tetap belajar.

Mau terima coretan editor.

Mau mengakui bahwa dunia berubah.

Mau bikin rencana cadangan.

Mau belajar hal baru seperti pasar modal.

Mau paham bahwa kebiasaan kita berbahasa belum tentu bentuk bakunya benar.

Mau menerima bahwa perhatian orang berubah, teknologi berubah, format berubah, dan kita perlu menyesuaikan diri tanpa kehilangan inti diri kita.

Di zaman yang serba cepat, kualitas seperti ini mungkin jauh lebih berharga daripada sekadar terlihat pintar atau terlihat paling tahu. Karena yang bertahan biasanya bukan yang paling keras kepala, melainkan yang paling siap belajar ulang.

Penutup

Menjadi kreator hari ini tidak cukup hanya bisa membuat karya. Kita juga perlu peka pada medium, paham perilaku orang, siap menghadapi salah paham, terbuka pada masukan, punya cadangan finansial, dan sanggup berpikir beberapa langkah ke depan.

Tetap lucu boleh. Tetap santai juga boleh. Tetapi di balik semua itu, ada disiplin yang sangat nyata.

Mungkin itu sebabnya obrolan seperti ini terasa menyenangkan. Isinya loncat-loncat, dari AI sampai bakso Malang, dari Medium sampai Dungeons and Dragons. Namun kalau diperhatikan baik-baik, semuanya bertemu di satu titik: berkarya itu bukan cuma soal ide, tetapi juga soal cara menjaga diri, menjaga proses, dan menjaga keberlanjutan.

Dan ya, kalau belakangan ini Anda mulai sering bertanya, “Ini AI bukan?”, mungkin memang sudah saatnya menambah satu pertanyaan lagi: kalau dunia berubah besok, saya sudah punya rencana cadangan belum?

Sumber: Podcast Narabahasa Raditya Dika dan Cerita-ceritanya | Senin dengan Ivan Lanin #1

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung di blog saya, semoga bermanfaat. Jangan lupa komen ya