Cerita Estafet

Cerita Estafet

Salah satu kegiatan dari ekstra menulis yang saya ampu adalah membuat cerita estafet. Dalam kegiatan ini kami membuat cerita secara bergiliran, sambung menyambung, menjadi satu (jadi ingat lagu kebangsaan hehe..). Tiap siswa mengucapkan satu kalimat, dilanjutkan ke siswa lain hingga menjadi satu cerita.

Cerita di bawah ini belum selesai. Sebenarnya kami semangat untuk lanjut, hanya saja bel pulang sudah berbunyi. Anak-anak berteriak kalau lanjut, akhirnya kami lanjut. Namun belum juga selesai dan sudah ada yang dijemput. 

"Baiklah.. lanjut pertemuan berikutnya." kata saya. Kami pun berdoa pulang.

Okee... langsung saja.. ini dia cerita estafet kami berdelapan...

. . . 

Gubraakk!!! Aku mendengar suara pintu kamar mandi ditutup kasar. Aku kira itu kakakku. Ternyata bukan kakakku, melainkan seorang yang lain. Aku sangat terkejut. Dia adalah orang jahat yang tak kukenal. Aku nggak tahu harus berbuat apa.

Aku terdiam tak berani melakukan apa-apa. Aku langsung memanggil orang tuaku.

“Ayah ibu, ada seseorang yang tak kukenal,” teriakku.

Tetapi ibu dan ayah tidak datang. Lalu aku berpikir untuk membuat sebuah jebakan. Jebakannya yaitu melempar kucing ke arahnya. Dia terkejut dan terluka. Aku pun berlari, tapi dia mengejarku.

Aku sembunyi di rumah tetangga. Sepertinya aman. Tetapi tetanggaku malah mengusirku. Lalu mendengar di kamar mandi ada yang berteriak “tolong,”. Akau terkejut. Dan aku lari. Akupun melihat tetanggaku terluka.

Aku bertanya, “apa yang terjadi,”

“Aku dilukai oleh seseorang,” jawabnya.

“Siapa dia?” tanyaku.

“Aku tak mengenalnya,” katanya sambal memegang luka.

“Orang yang menyerangku memakai baju hitam dan penutup wajah hitam. Sebaiknya kau melapor ke polisi,” saran tetanggaku.


Akhirnya aku melapor polisi melalui telepon rumah. Tapi kabel teleponku diputus pencuri. Aku pun berlari menuju kantor polisi dekat rumahku. Tetapi di jalan aku dihadang lelaki bebaju hitam yang diceritakan tetanggaku. 


EmoticonEmoticon