Menumbuhkan Cinta Lingkungan pada
Murid
Setiap pagi, sebelum bel sekolah berbunyi, saya punya kebiasaan kecil:
berjalan mengelilingi halaman sekolah. Mendengar kicau burung di pepohonan
jambu, merasakan embun di rumput yang belum kering, dan melihat anak-anak
berlarian dengan wajah cerah.
Di saat seperti itu, saya sering berpikir, betapa indahnya dunia ini jika semua
orang mau menjaganya.
Sebagai seorang guru, setiap langkah
kecil di halaman sekolah sering kali membawa renungan besar. Setiap kali
melihat murid-murid menanam bibit pohon, memungut sampah tanpa disuruh, atau
kagum melihat ulat berubah jadi kupu-kupu, aku merasa, beginilah seharusnya
pendidikan berjalan. Membangun kesadaran, bukan sekadar pengetahuan. Alam bukan
sekadar latar belajar, tapi ruang hidup yang membentuk karakter.
Aku selalu percaya, pendidikan
lingkungan tidak bisa berhenti di ruang kelas. Ia harus hidup di halaman
sekolah, di sungai yang mengalir di dekat rumah, di udara yang kita hirup
bersama. Karena itu, aku mulai mencari referensi, panduan, dan inspirasi
tentang bagaimana sekolah bisa ikut menjaga keseimbangan alam.
Sebagai guru, saya selalu berusaha menanamkan pada murid-muridku bahwa alam bukan sekadar latar
tempat hidup, tapi sahabat yang harus disayangi. Saya sering
berkata, “Kalau bumi sakit, manusia pun tak bisa sehat.”
Anak-anak biasanya mengangguk, beberapa bertanya polos, “Bu, bumi bisa sakit,
ya?”
Dan di situlah percakapan kami dimulai, tentang hutan yang gundul, sungai yang
kotor, udara yang tak lagi segar.
Pelajaran yang Tak Ada di
Buku Teks
Mengajar tentang alam bukan hal mudah. Buku pelajaran memang punya bab
tentang lingkungan, tapi menjaga alam bukan sesuatu yang bisa diajarkan hanya
lewat paragraf. Ia harus dihidupkan lewat tindakan, contoh, dan rasa.
Menjaga lingkungan tak bisa dilakukan sendirian. Dibutuhkan dukungan, sistem, dan keteladanan dari pihak yang benar-benar mengabdikan diri pada bumi.
Inilah bentuk pendidikan kontekstual yang sesungguhnya, belajar dari
kehidupan nyata, di tempat yang nyata, dengan dampak yang bisa dirasakan
langsung.
Saya membayangkan, jika setiap sekolah bekerja sama dengan DLH, maka pelajaran
“Peduli Lingkungan” tak lagi hanya ada di halaman buku, tapi benar-benar tumbuh
di halaman sekolah.
Situs itu juga memuat banyak dokumentasi kegiatan. Foto-fotonya sederhana,
tapi menyentuh. Ada ibu-ibu membawa karung sampah, anak-anak dengan seragam
sekolah memegang bibit pohon, dan petugas DLH yang menanam mangrove di tepi
pantai.
Semua itu terasa seperti potongan kecil dari mozaik besar yang bernama cinta
terhadap bumi.
Belajar dari Teladan,
Bukan Sekadar Ceramah
Saya sadar, selama ini banyak lembaga atau program lingkungan yang berhenti
di tataran slogan.
Sebagai guru, saya melihat ini sebagai bentuk keteladanan sosial.
Mereka tidak mengajarkan lewat teori, tapi lewat aksi nyata. Dan bukankah itu
juga prinsip pendidikan yang baik?
Anak-anak akan meniru bukan apa yang kita katakan, tapi apa yang kita lakukan.
saya ingin mengajak murid-murid
berkunjung langsung ke DLH. Bukan untuk sekadar melihat kantor, tapi untuk
belajar dari orang-orang yang bekerja menjaga bumi. Mungkin kami akan bertanya,
“Bagaimana cara kalian memisahkan limbah?” atau “Kenapa pohon mangrove penting
bagi laut?”
Saya yakin, pengalaman seperti itu akan jauh lebih bermakna daripada seratus
halaman teori. Karena pendidikan lingkungan bukan tentang menghafal fakta, tapi menumbuhkan
rasa cinta.
Dan di luar itu, saya berharap lembaga terkait terus memperluas
jangkauan edukatifnya, mungkin dengan membuat modul belajar sederhana,
video edukasi anak, atau program kunjungan sekolah. Dengan
begitu, lebih banyak guru bisa menjadikan kegiatan mereka sebagai contoh nyata
pembelajaran yang hidup kepada murid.
Karena menjaga alam sejatinya adalah menjaga masa depan murid-murid
kita.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Terima kasih telah berkunjung di blog saya, semoga bermanfaat. Jangan lupa komen ya