MENULIS SEBAGAI KETRAMPILAN BERBAHASA - Fauziah Rachmawati | Pendidik dan Penulis

Breaking

Iklan

Jumat, 04 Juni 2021

MENULIS SEBAGAI KETRAMPILAN BERBAHASA

 


MENULIS SEBAGAI KETRAMPILAN BERBAHASA

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas

Matakuliah Konsep Dasar Bahasa Indonesia

Oleh:

            Fauziah Rachmawati       


MENULIS SEBAGAI KETRAMPILAN BERBAHASA

 

Kekuatan yang dasyat bukan bersumber dari tubuh yang berotot, tetapi dari pikiran-pikiran cemerlang yang menjadi pencerah (Mahatma Gandhi)

Aku adalah sebuah pensil untuk menulis sebuah kata. Tuhan yang menggerakkan tanganku untuk menulis surat cintaNya untuk semua penghuni dunia (Mother Theresa)

 

A.    MENULIS

Keterampilan  menulis  memiliki  peran  yang  sangat  penting karena  setiap  tugas  yang  diberikan  guru  dapat  dilakukan  dengan  baik  apabila siswa  memiliki  keterampilan  menulis  yang  baik.  Keterampilan  menulis  sangat diperlukan  oleh  siswa  untuk  menyelesaikan  tugas  dan  kewajiban  yang  bersifat tertulis. Menulis merupakan suatu kegiatan yang bersifat produktif, dan ekspresif (Nurul, 2011: 16). Artinya bahwa dalam kegiatan menulis ini merupakan kegiatan yang menghasilkan sebuah tulisan.

Menulis merupakan kegiatan yang memerlukan kemampuan yang bersifat kompleks. Kemampuan yang diperlukan antara lain kemampuan berpikir teratur dan logis, kemampuan mengungkapkan pikiran atau gagasan secara jelas, dengan menggunakan  bahasa  yang  efektif,  dan  kemampuan  menerapkan  kaidah  tulis-menulis  dengan  baik  (Zuchdi  dan  Budiasih,  2007:  71). 

Menulis  adalah  kegiatan  komunikasi  berupa  penyampaian  pesan  secara tertulis  kepada  pihak  lain.  Aktifitas  menulis  melibatkan  unsur  penulis  sebagai penyampai  pesan,  pesan  atau  isi  tulisan,  media  tulisan  dan  pembaca  sebagai penerima pesan (Suparno dan Yunus, 2008: 1.35).

Menurut  Tarigan  (1995,  dalam  Syarif,  dkk.  2009:  5),  menulis  berarti mengekspresikan secara tertulis gagasan, ide, pendapat atau pikiran, dan perasaan.  Sarana  mewujudkan  hal  itu  adalah  bahasa.  Isi  ekspresi  melalui  bahasa  itu  akan dimengerti orang lain atau pembaca bila dituangkan dalam bahasa yang teratur, sistematis, sederhana, dan mudah dimengerti. 

Kemampuan  menulis  pada  siswa  dapat  diperoleh  melalui  proses  yang panjang.  Sebelum  sampai  pada  tingkat  mampu  menulis  siswa  harus  mulai  dari lambang-lambang  bunyi  untuk  diingat  sebagai  dasar  pengetahuan  menulis. Pengetahuan  dan  kemampuan  yang  diperoleh  pada  tingkat  permulaan  itu  akan menjadi  dasar  peningkatan  dan  pengembangan  kemampuan  siswa  selanjutnya.  Apabila dasar itu baik, kuat, maka dapat diharapkan hasil pengembanganpun akan baik pula dan apabila dasar itu kurang baik atau lemah, maka dapat diperkirakan hasil pengembangannya akan kurang baik juga.

 

B.    JENIS-JENIS TULISAN

Menilik dari panjang pendeknya, sebuah tulisan atau karya tulis dapat dibagi menjadi karangan pendek atau karangan panjang (buku). Pendek atau panjangnya sebuah tulisan sangat relatif ukurannya. Cerita pendek, sebagai contoh, ada yang hanya terdiri atas tak lebih dari 5000 karakter termasuk spasi (kira-kira 3 halaman kuarto ketik berhuruf ukuran 14 points dan berspasi tunggal), tetapi ada yang panjangnya 10 atau 20 kali lipat dari itu.

Beberapa acuan berikut bisa menjadi pegangan Anda dalam memperhitungkan panjang tulisan :
1. Karakter huruf sebagai ukuran.
Karakter atau huruf menjadi patokan terpenting dan terakurat dalam membicarakan atau menentukan panjang tulisan. Tulisan yang pas untuk mengisi satu halaman majalah berukuran kuarto adalah kira-kira 4000 karakter (termasuk spasi antar kata yang dihitung 1 karakter). Artikel populer yang ditulis untuk surat kabar lazimnya terdiri atas 5000-7000 karakter (termasuk spasi antar kata). Satu halaman buku saku (pocket book) normalnya terdiri atas sekitar 1500 karakter.
2. Kata sebagai parameter.
Kata bisa juga dipakai sebagai penentu panjang tulisan walaupun tidak seakurat penghitungan berdasarkan karakter huruf, sebab ada kata yang terdiri atas sedikit karakter dan ada kata yang terdiri atas banyak karakter. Dalam bahasa Indonesia, misalnya kata "ia" hanya terdiri atas 2 karakter, sedangkan kata "mempertanggungjawabkan" terdiri atas 22 karakter. Tetapi keduanya masing-masing dianggap satu kata.
3. Panjang tulisan berdasarkan halaman.
Buku serius lazimnya memiliki jumlah halaman lebih dari 100 lembar (50 halaman bolak-balik). Tetapi sesungguhnya jumlah halaman tak dapat dipakai sebagai patokan untuk menilai mutu sebuah buku. Novel "Peace and War" karya Leo Tolstoy terdiri atas lebih kurang 1000 halaman bila dicetak dalam format buku. Contoh tersebut hanya sebagai motivasi bagi Anda yang ingin menulis secara serius. Mulailah menulis artikel, berita, atau cerita pendek singkat sepanjang beberapa halaman.
4. Buku dalam beberapa jilid.
Cerita silat terkenal panjang. Kalau cuma terdiri atas 30 jilid, sebuah judul cerita silat dianggap lumrah saja. Ensiklopedi terdiri atas banyak jilid, namun ditulis oleh banyak orang pula. Dalam hal ini sebetulnya Anda tidak ditantang untuk menulis dalam beberapa jilid buku, tetapi didorong untuk menulis dengan bagus.

            Jenis tulisan berdasar isi cerita dibedakan menjadi tiga.

  • 1.     Fiksi

Fiksi adalah penulisan yang menceritakan tentang kejadian-kejadian yang ‘direkayasa’, lengkap dengan karakternya. Kadangkala, fiksi dapat berupa kejadian imajinatif yang serupa dengan kejadian nyata hari-hari, sehingga tidak 100% direkayasa. Fiksi sendiri terbagi menjadi 4 kategori utama :

a.     Cerpen adalah karya singkat dari sebuah fiksi yang memiliki elemen plot, konflik, karakter, setting & dialog, namun biasanya hanya fokus pada 1-2 karakter dan 1 kejadian. Cerpen cenderung ‘memperlihatkan’ karakter si tokoh pada satu peristiswa penting daripada membangunnya melalui beberapa kejadian. Dengan membaca cerpen, pembaca dapat menarik kesimpulan & kesan secara menyeluruh, walau hanya berdasarkan satu/kejadian penting tersebut

b.     Novel adalah karya panjang dari sebuah fiksi. Elemen-elemennya  dari novel antara lain plot, karakterisasi, tema & setting) dibangun secara mendetail. Pada novel terdiri dari 1 plot utama dan beberapa sub-plot pendukung. Karya fiksi yang lebih pendek dari novel namun lebih panjang dari cerpen disebut novella.\

c.    

       Ada 7 elemen utama yang penting banget dalam menulis sebuah cerita

1. Tema
What is my story about?
What is the purpose of my story?
Dua hal di atas adalah pertanyaan wajib yg harus dijawab sebelum mulai membuat cerita, barulah setelah itu akan terbentuk tema cerita. Tema adalah struktur dasar (backbone) cerita yang mendasar dan amat penting. Dengan tema, desain
keseluruhan ceritamu akan tepat, kata-kata akan mengalir, dan karaterisasi tokoh dapat terbentuk lebih baik.

d.     2. Plot
Plot adalah sesuatu yang terjadi atau dilakukan oleh si tokoh/karakter. Membuat plot dalam point-point penting, lalu memecahnya lagi dalam sub-plot (apabila perlu). Kemudian menyertakan konflik dapat membuat plot menjadi lebih menarik. Konflik terjadi karena aksi-reaksi dari para karakter tsb. Dalam konflik ini, karakter akan lebih hidup.

3. Setting

Merupakan latar belakang tempat, waktu, serta keadaan dari cerita tsb. Setting memiliki peran dalam mempengaruhi mood/atmosphere cerita, serta membuat cerita kita lebih realistis.

4. Sudut pandang atau point of view

Point of View/sudut pandang adalah posisi yang digunakan penulis dalam menceritakan ceritanya.

       Point of view terdiri dari 3 macam:
1) Sudut pandang orang pertama

e.     Menggunakan kata ‘aku,saya,-ku’. Pemilihan terhadap PoV ini dikarenakan penulis:
a. membuat cerita lebih ‘personal’
b. Menyelami pemikiran 1 karakter saja
c. membuat seolah-olah penulis langsung berbicara dengan pembaca

f.      2) Sudut pandang orang ketiga—terbatas

g.     Menggunakan kata ‘dia,mereka,-nya’. Pemilihan terhadap PoV ini dikarenakan penulis:
a. menyediakan lebih banyak info tentang para karakter & kejadian-kejadian
b. memperlihatkan kejadian melalui mata dari 1 karakter
c. Encourage pembaca untuk mencari tahu tentang si karakter

      Pada PoV ini, penulis tahu karakter seseorang seolah-olah atas apa yang dilakukan & dikatakan karakter lainnya, sehingga pembaca dapat menilai keseluruhan cerita dengan lebih obyektif.

3) 3) Sudut pandang orang ketiga—tak terbatas
Menggunakan kata ‘dia,mereka,-nya’. Pemilihan terhadap PoV ini dikarenakan penulis:
a. menciptakan full view tentang semua karakter & kejadian
b. memperlihatkan apa yang semua karakter rasakan dan pikirkan
c. menciptakan sudut yang luas terhadap keseluruhan cerita

Perbedaannya dgn no.2 adalah: si penulis di sini menjadi orang yang ‘tahu segalanya’. Pembaca berkesempatan menilai cerita dari segala aspek, dan dapat lebih obyektif lagi daripada PoV orang ke-3 terbatas.

5. Karakterisasi

Dalam cerita ada yg namanya tokoh utama (main character) dan tokoh pengganggu (obstacle character).
a. Tokoh utama adalah tokoh yang memiliki belief sesuai dengan filosofi/goal dari cerita. Ia juga tokoh yang mendapat simpati & paling dicintai pembaca. Biasanya tokoh utama adalah si protagonis (the good guy).
• Tokoh pengganggu : tokoh yang memiliki belief bertolak belakang dengan filosofi/goal cerita, sehingga terjadi konflik dengan si tokoh utama. Ia disebut juga si antagonis (the bad guy).
“Every good book begins with good characters.” — Jasmine Creswell


Penulis dapat menciptakan karakter yang tak terlupakan melalui karakterisasi, yaitu beberapa cara lain untuk mengatakan/memperlihatkan kepada si pembaca mengenai karakter dalam cerita antara lain
1.Sifat karakter. Contoh: ketus, ramah, suka bercanda
2.Aksi dari karakter.
3.Latar belakang karakter. Contoh: masa kecil, pengalaman masa lalu
4.Reaksi dari satu karakter terhadap sifat karakter lain
5.Dialog para karakter
6.Perasaan, pemikiran, serta keinginan si karakter
7.Komentar dari karakter lain tentang orang tersebut
8.Perasaan, pemikiran, dan aksi dari karakter lain
9.Komentar langsung dari penulis mengenai sifat asli dan  kepribadian karakter tersebut

h.    Ciri-ciri tulisan tulisan fiksi

a.     Mengandalkan imajinasi

b.     Tidak menutup kemungkinan berdasarkan fakta

c.     Jenisnya berupa puisi, cerpen, novel, novelet, dan scenario

d.     Sering juga disebut penulisan kreatif (creative writing)

 

2.     Nonfiksi

Ciri-ciri nonfiksi

a.     Berdasarkan fakta dan data

b.     Bentuknya: berita, artikel, feature, kolom, essai, dan tajuk rencana

c.     Masing-masing mempunyai ciri khas, baik dalam bentuk penyusunannya,  konsumsi serta kegunaannya

d.     Khusus untuk berita biasanya ditulis seorang wartawan, lainnya bisa oleh siapa saja (penulis)

Jenis tulisan nonfiksi

1.     Buku teks

2.     Artikel adalah tulisan lepas berisi opini seseorang yang mengupas tuntas suatu masalah tertentu yang sifatnya aktual dan atau kontroversial dengan tujuan utk memberitahu (informatif), memengaruhi dan menyakinkan (persuasif argumentatif), atau menghibur khalayak pembaca.

Kharakteristik artikel

a.     Ditulis dengan atas nama  (by line story)

b.     Mengandung gagasan aktual dan atau kontroversial

c.     Gagasan yang diangkat harus menyangkut kepentingan sebagian terbesar khalayak pembaca

d.     Ditulis secara referensial dengan visi intelektual

e.     Disajikan dalam bahasa yang hidup, segar, populer, dan komunikatif

f.      Singkat dan tuntas

g.     Orisinal

3.     Esai

4.     Laporan

5.     resume

6.     Faksi

 Ciri-ciri faksi

a.     Berdasarkan fakta

b.     Dikemas dengan cara fiktif

c.     Biografi atau otobiografi contohnya

d.     Tidak membosankan

e.     Menggunakan bahasa populer

f.      Isinya mengalir

 

Jenis tulisan yang termasuk dengan tulisan faksi

a.     Feature

b.     Diary

c.     Memoar

d.     Biografi

e.     Autobiografi


C. MEMILIH TEMA TULISAN

Untuk belajar menjadi penulis, kita dapat memulai dengan tema (atau lebih tepatnya sub tema) apa saja yang paling disuka. Mereka yang gemar sepakbola silahkan iseng-iseng menulis analisis suatu (bakal pertandingan) atau bakal suatu novel yang bercerita tentang suka duka dan seluk beluk dunia sepakbola dan segala kontroversinya, pasti seru. hal ini yang pernah dilakukan oleh penulis cerita anak-anak terkenal dari Inggris, Enid Blyton yang terkenal dengan karya-karyanya yang terkenal, khususnya "The Famous Five" (Lima Sekawan).

Menulis suatu topik secara detil lebih mudah daripada mengait-ngaitkan topik tersebut dengan hal-hal lain. Tema bisa ditulis secara kontradiktif. Contohnya, tema cinta yang sudah sangat sering digarap orang, dapat sorot dari sudut pandang baru yang kontroversial. Misalnya cinta katanya indah, pada kenyataannya cinta tak tampak indah semata-mata, melainkan juga gombal, penuh intrik.

Beberapa tema yang menarik yang bisa dijadikan ide penulisan, antara lain :

1.     Romansa perang. Tema cinta, persahabatan, atau perjuangan yang mengambil latar belakang sejarah perang dunia II cukup banyak digarap. Asmara dipertentangkan dengan heroisme cinta tanah air. Kemudian kisah dipelintir menjadi happy ending bersamaan dengan selesainya perang.

2.     Tokoh eksentrik. Banyak novel bagus menokohkan seseorang yang hidup eksentrik. Contohnya : bahwa tokoh tersebut adalah seorang kanibal, maniak atau pembunuh berantai. Anda pun boleh mencoba menciptakan tokoh imajinatif (seperti Batman yang populer lewat komik) untuk mendukung penyampaian tema.

3.     Cerita rakyat. Cerita rakyat atau dongeng fantastis tak ketinggalan muncul sebagai tema besar. Ternyata apabila dikerjakan dengan bagus, cerita rakyat dan dongeng bisa tampil menjadi kisah hebat pula. Contoh : Yeti manusia raksasa yang konon hidup di pegunungan Himalaya atau naga di Danau Lochness di Eropa.

4.     Fabel. George Orwell pernah menampilkan setting kehidupan hewan (atau apa yang selama ini dikenal sebagai cerita fabel yaitu cerita yang menokohkan binatang) dalam karyanya yang cukup ternama "Animal Farm". Kisah dalam film kartun "Ice Age" pun merupakan fabel yang sangat berhasil. Manusia dapat bercermin dari fabel yang tak lain tak bukan adalah replika hidupnya sendiri.

5.     Hantu atau horor. Ingat hanti pasti ingat film "Hantu Jeruk Purut", bukan ? Cerita film seperti itu bisa berasal dari kisah kejadian nyata, urban legend ataupun berangkat dari sebuah karya tulis (novel). Atau memang khusus karya tulisan skenario (memang dibuat untuk difilmkan). Tema hantu atau horor sebaiknya digarap tanpa sama sekali melupakan akal sehat, sehingga tidak menjadi terlalu khayal (yang terkadang malah mengundang gelak tawa).

6.     Teenlit. Terakhir kita mengenal teenlit (teenagers literature) yang mengupas habis tema-tema seputar kehidupan remaja. Cinta sudah pasti masuk sebagai menu utama subtema. Kemudian ada pula sub-tema khas anak muda, seperti : pencarian diri, mode, persahabatan, perseteruan antar kelompok, kehidupan seputar sekolah atau kampus, hingga soal jerawat.


Tema-tema baru senantiasa bisa digali sesuai dengan keadaan dan kebutuhan. Banyak penulis besar menulis mengikuti insting atau nalurinya semata-mata. Barulah setelah tulisannya selesai, pembaca atau kritikus ramai-ramai mempersoalkan tema karya tersebut, padahal penulisnya tak pernah merencanakan dan mengarahkan buah penanya pada suatu tema eksklusif.


D.     MEMULAI MENULIS TULISAN

Semua orang tahu bahwa kisah Harry Potter yang ditulis J.K. Rowling dan menjadi karya best seller dunia itu hanya khayalan semata. Ternyata mutu karya tulis tidak ditentukan oleh apakah ia kisah nyata atau khayalan. Fakta atau fiksi, keduanya sama-sama bisa menjadi karya tulis nomor satu. Modal apa yang perlu dimiliki seseorang untuk menjadi penulis cerita atau buku imajinasi atau fiksi jempolan (dalam arti bakal disukai banyak pembaca alias berpotensi menjadi best seller).

1. Membuat jalinan cerita yang kompleks.

Begitu banyak ide cerita yang bisa digali untuk kemudian dikompilasi menjadi suatu cerita baru yang sama sekali berbeda. Plagiat sah-sah saja kalau kita menggabungkan berbagai ide cerita dari, misalnya, 50 macam cerita mini seri yang pernah kita tonton menjadi satu cerita yang sama sekali baru dengan penambahan atau revisi di sana-sini. Namun memang akan lebih baik bila ide cerita yang kita tulis sama sekali baru dan bukan sekedar mengekor dari berbagai ide cerita yang pernah ada.

2. Menciptakan tokoh berkarakter kuat.

Tokoh cerita rekaan mestilah memiliki karakter kuat. Usahakan mengikuti keyakinan masyarakat umum atau sama sekali menabraknya (biar jadi cerita kontroversial). Jangan tanggung-tanggung jangan setengah-setengah. Fiksi atau cerita rekaan didefinisikan sebagai cerita yang diciptakan dan dikarang oleh penulis, termasuk fiksi ilmiah, dongeng imajinatif, novel picisan dan naskah telenovela.

 

3.     Menghadirkan kejutan tak terduga.

Menghadirkan kejutan tak terduga sangat penting dalam pembuatan sebuah cerita. Karena kejutan ini dapat membuat pembaca penasaran, hafal dengan gaya tulisan kita, dan membuat pembaca tidak rela untuk meninggalkan tulisan kita.  

4.     Menggunakan gaya bahasa yang istimewa.

Kalau cerita tak membuat perbedaan berarti, giliran bahasa yang memegang peranan dalam menentukan mengapa suatu karya tulis dapat dinilai lebih baik atau lebih jelek daripada karya lain. Penulis harus memiliki kepekaan bahasa istimewa dan mahir menggunakan bahasa dalam mewujudkan karyanya, termasuk sampai perkara-perkara paling kecil, seperti menyiasati tanda baca. Anda sangat dianjurkan terus menerus memperdalam kemampuan bahasa Anda. Rajin membaca karya tulis bermutu dapat mengasah ketajaman bahasa Anda, sekaligus pula bisa memperdalam kemampuan daya ungkap Anda dengan menggunakan bahasa. Makanya banyak-banyaklah membaca!


5.     Mengenali calon pembaca.

Seorang penulis wajib mengetahui siapa kira-kira calon pembacanya dalam hal usia, jenis kelamin, jenis tulisan, pangsa pasar, serta budaya.

Bagi beberapa orang, mengarang cerita rekaan ini lebih menyenangkan daripada menulis laporan, atau opini yang harus memperhatikan fakta dan teori. Sebaliknya, bagi beberapa orang lain, menulis fiksi sama sekali tidak menarik.

Salah satu pertanyaan yang sering muncul berbunyi, "Apakah seseorang harus belajar mulai dari menulis fiksi atau menulis fakta ? Tidak ada jawaban yang pasti terhadap pertanyaan ini,

Dengan pengetahuan tentang elemen-elemen dasar dan semangat yang berkobar dan setumpuk kesabaran, tidak terlalu sulit untuk menulis sebuah cerita (baik fiksi, nonfiksi, atau faksi).

 Hal-hal yang harus diperhatikan untuk menulis cerita fiksi (cerpen maupun novel) ?

1. Membaca.

Membaca sangat penting bagi setiap orang yang ingin menulis. Demi meningkatkan kemampuan menulis cerita, Anda mula-mula harus banyak membaca. Ini bukan hanya memberi motivasi dan inspirasi kepada Anda, tetapi juga membantu Anda memahami bagaimana penulis lain memikat pembaca dan bagaimana mereka menerapkan gaya mereka. Dari sana, Anda membangun gaya bertutur Anda sendiri.

2. Mendapatkan ilham.

Bagi para penulis yang sudah jago, ilham tampaknya datang begitu saja setiap saat. Bagi penulis baru ? Jangan khawatir, ilham bisa didapat dimana-mana. Inspirasi bagi Anda bisa berupa sebuah benda, seseorang yang membuat Anda terkesan atau mau muntah, atau peristiwa yang tak terlupakan.

3. Merumuskan konsep cerita.

Merumuskan cerita berguna mengonsep cerita yang akan ditulis. Misalnya ingin menyampaikan cerita tentang seseorang lelaki yang jatuh cinta pada peri. Bagaimana mereka bisa bertemu? Apa menariknya percintaan manusia dan peri? Apakah ia menceritakan kisah cintanya kepada keluarga atau teman-temannya?

4. Menulis peristiwa kunci.

Tulislah daftar peristiwa yang akan terjadi dalam cerita Anda. Tulislah karakter-karakter yang akan menghidupkan cerita. Tidak harus detil. Ini hanya sketsa kasar jalan ceritanya.


5.     Memahami karakter-karakter tokoh.
Menulis cerita baik cerita pendek maupun novel kira-kira sama dengan menceritakan sebuah peristiwa yang dialami "seseorang" atau "beberapa orang ". Kenali tokoh itu sedalam-dalamnya dan akan bisa menuturkan cerita yang menarik tentangnya. Bikinlah tokoh Anda masuk akal tetapi menyimpan misteri.


6.     Membangun plot yang memikat.

Memperbesar konflik selama cerita berjalan. Ini akan membuat pembaca dengan senang hati melahap cerita sampai selesai.


7.     Membuat pembukuan.


8.     Menggunakan dialog.
Dialog penting untuk menghidupkan cerita. Gunakan dialog untuk memperkuat cerita dan menghidupkan karakter. Jangan menggunakannya untuk berpanjang-panjang.


E. ALUR CERITA DALAM TULISAN

Jika tulisan atau novel biasa dimulai saat tokohnya remaja dan berakhir ketika sang tokoh meninggal dunia, penulis tertentu kadang-kadang memulai ceritanya sewaktu sang tokoh misalnya, sedang sekarat terbaring di tempat tidur, baru selanjutnya dikisahkan kembali pengalaman hidup tokoh pada masa silam. Cara bercerita ini dikenal sebagai mengikuti alur mundur. Di antara banyak tulisan atau buku yang berkisah dalam alur maju, sesuai pergerakan waktu, menulis dengan pola alur mundur (atau maju-mundur) mula-mula dianggap unik atau kreatif. Namun dengan semakin meningkatnya jumlah dan beragamnya karya yang ditulis beralur mundur, metode ini pun kini bukan lagi termasuk suatu inisiatif luar biasa. Teknologi tulis-menulis dengan komputer sekarang juga sangat mempermudah seorang penulis mengacak-acak tulisannya, memajukan atau memundurkan sebagian segmen isi, dan menyelipkan tambahan atau perubahan di sana-sini untuk menghasilkan karya rekaan atau fiksi kreatif.

Selama ini alur bercerita yang telah dikenal adalah :

1.     Alur maju. Sesuai dengan namanya, alur maju adalah gaya bercerita yang mengalir maju berdasarkan pergerakan waktu atau mengikuti urutan terjadinya peristiwa secara logis. Umumnya penulis menerapkan alur maju dalam tulisannya.

2.     Alur mundur. Bertolak belakang dengan alur maju, alur mundur mengisahkan suatu peristiwa dengan cara flash-back atau mengenang kembali. Banyak novel perang mengungkapkan riwayat masa lalu tokohnya dengan memanfaatkan teknik bercerita beralur mundur.

3.     Alur maju-mundur. Sesungguhnya tak ada karya tulis yang 100% konsekuen berjalan mengikuti alur maju atau mundur, melainkan lebih banyak yang silih berganti masuk ke alur maju dan mundur. Alur pun biasanya berkaitan dengan tulisan atau buku yang isinya cukup panjang, sehingga alurnya dapat dideteksi. Karya tulis pendek hampir dapat dikatakan tidak ketat atau tidak penting dikenali alurnya.

 

F.    MELAKUKAN EDITING DAN PERIKSA ULANG TERHADAP KARYA KITA

Ketika mengirimkan artikel, novel, produk atau diri sendiri, atau mengirimkan jenis tulisan yang lain, perlu menunjukkan kesan pertama yang menarik. Bagaimana bisa meyakinkan sebuah majalah, atau pembaca, bahwa bisa menulis karya yang bagus jika ada banyak kesalahan pada karya.

Sebagian besar pembaca dan pecinta buku akan jengkel dan malas meneruskan membaca buku atau artikel yang banyak kesalahannya. Jadi sebaiknya penting sekali menampilkan tulisan dengan seprofesional dan sesempurna mungkin.

Untuk memperoleh karya tulis yang tampil secara sempurna dan tidak memiliki kesalahan dalam hal penulisan, redaksional dan tata bahasa, perlu dilakukan editing dan periksa ulang berkali-kali terhadap karya kita. Walau pada akhirnya nanti, karya tulis kita itu akan dilakukan editing ulang oleh para editor majalah atau penerbit buku, namun sebaiknya naskah tulisan kita itu sudah sempurna atau paling tidak mendekati sempurna dalam arti tidak mempunyai banyak kesalahan, terutama dalam hal redaksional (tata bahasa, tidak adanya salah ketik, tanda baca, dsb). Berikut disajikan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam melakukan editing :
1. Kesalahan ketik.
Mencermati dan membenarkan kesalahan ketik, pernyataan-pernyataan yang tidak konsisten, kekaburan, kalimat-kalimat yang kaku dan tidak menarik, dan pilihan kata (diksi) yang lemah hendaknya dilakukan oleh seorang penulis. Editing merupakan bagian yang sangat penting dari penulisan, dan inilah yang membedakan antara penulis yang baik dan penulis yang sedang-sedang saja, teledor, dan tidak peduli pada karya yang dibuatnya.
2. Memeriksa ejaan dan tata bahasa.
Jika kamu teledor dalam penulisan dan sering menggunakan tata bahasa yang tidak benar, ini juga akan membuat orang sulit percaya bahwa kamu bisa menulis secara baik. Dalam hal ini kita tidak bicara tentang tata bahasa baku. Sebab banyak juga novel terutama novel remaja - yang ditulis tidak dengan tata bahasa Indonesia baku, tetapi bahasa pergaulan para remaja pun memiliki aturan mainnya sendiri yang membuat bahasa tulis kamu enak dibaca, lancar dan tidak tersendat-sendat.
3. Mencetak tulisan.
Biasanya kita akan lebih nyaman mengoreksi tulisan yang tercetak di kertas ketimbang jika memelototinya di layar monitor. Menggunakan tinta warna merah atau hijau baik dilakukan dalam melakukan koreksi.
4. Mengendapkan tulisan.
Dengan mengendapkan naskah dalam beberapa waktu, kita akan akan lebih mudah untuk menemukan kelemahan-kelemahan tulisan yang kamu hadapi. Dan bagaimana agar menjadi lebih baik..
5. Meminta orang lain membaca.
Meminta teman untuk membaca naskah dan mintai komentar atas naskah tersebut dapat memberikan kritik dan saran yang membangun demi kebaikan tulisan yang dibuat
6. Bergabung dengan komunitas menulis.
Berkumpul dengan komunitas yang memiliki passion dengan kita memilik banyak manfaat bagi perkembangan kemampuan dalam menulis. Komunitas ini biasanya mengadakan pertemuan rutin, acara bedah buku, diskusi buku dan banyak lagi kegiatan bermanfaat yang bisa dilakukan, salah satunya yaitu
7. Membaca buku.
Buku-buku yang baik akan mengajarkan cara menyusun kalimat yang baik, cara menyampaikan informasi yang baik, dan cara menyusun cerita yang menarik.

 

G.   MEMILIH GENRE

Genre adalah kategori dari suatu penulisan. Secara umumada 5 genre utama dalam industri penulisan novel, baik itu untuk anak-anak, remaja, maupun dewasa. Lima genre utama ini antara lain
1) Romance

Sebuah buku dikatakan bergenre romance hanya apabila bertemakan cerita romantis, tidak hanya kisah cinta laki-laki dan perempuan tetapi juga bisa antara saudara, antara barang mainan dengan pemiliknya, dan lain-lain. Ide dasar dan plot keseluruhan cerita harus mengenai romance serta tentunya harus terjadi ‘chemistry’ antara the hero dan the heroine.
2) Fantasy

genre yang menceritakan kejadian-kejadian yang tidak mungkin terjadi di dunia nyata. Biasanya terdiri dari karakter, kejadian, serta setting yang imajinatif.
3) Science-Fiction

Merupakan sub-genre dari fantasy, karena menyertakan isu science dan
teknologi. Biasanya menggunakan latar belakang di masa depan, planet yang jauh, ataupun melibat kanalien.
4) Mystery

Genre ini memaparkan tema misteri, biasanya tentang pembunuhan. Ceritanya
bernuansa menegangkan, dan seringkali membutuhkan ‘otak’ untuk ikut mengurai serpihan-serpihan kejadian yang berlangsung.
5) Horor

Pada dasarnya genre ini mirip sekali dengan misteri. Tetapi horor memiliki intensitas ketegangan yang lebih mencekam karena melibatkan ghostly stuff.

 

Bagi penulis, pemilihan genre berguna untuk mengkomunikasikan apa yang ada di otak atau ide dasarnya.

 H JENIS TULISAN DI MEDIA MASSA

Ada beberapa hal yang terlintas di benak saya ketika itu, tentunya untuk menanggapi keluhan seorang kawan tersebut. Pertama, mungkin karya-karyanya tersebut kurang bermutu, dalam artian maknanya mungkin kurang dalam atau malah terkesan ngawur. Tidak jelas jalan ceritanya, terlalu berputar-putar, penggunaan tata bahasa yang buruk, atau yang lainnya.

Kedua, mungkin dari segi pemilihan judul yang kurang tepat ataupun kurang menarik. Sebab, sebuah judul adalah sebuah kalimat yang pertama kali dibaca pada sebuah tulisan. Ambil contoh, sebuah berita di pojok halaman (yang mungkin kurang nilai jualnya), tetapi mempunyai judul yang sangat menarik. Sebuah berita yang sebenarnya mungkin sangat sepele atau bahkan memang hanya sebagai pengisi ruang kosong, menjadi sangat penting dan perlu dibaca. Walaupun nantinya ketika seorang pembaca, membacanya menjadi kecewa, tetapi di pihak si penulis berita merasa diuntungkan, karena tulisannya dibaca orang lain. Karena itu tadi, judul yang menarik bisa menjadi daya tarik seorang pembaca untuk membacanya. Pembaca menjadi penasaran, walaupun mungkin berita tadi biasa-biasa saja.

Ketiga, mungkin tulisan yang dibuat tak sesuai dengan selera redaktur, sang penjaga rubrik. Hal ketiga inilah yang menjadi suatu kemungkinan yang menarik untuk disimak. Sadar atau tidak sadar, penulis terperangkap pada selera sang redaktur. Ketika sebuah pertanyaan yang timbul di benak penulis, yaitu, “Mengapa karya saya tak kunjung dimuat?”, mungkin pada saat itu selera redaktur tak bersesuaian dengan karya-karya si penulis. Sehingga, mau tak mau, suka atau tidak suka, karya penulis itu tidak bisa dimuat.

Sebagai gambaran, mungkin bisa disimak penuturan dari seorang sastrawan besar yaitu, A.A Navis, tentang nasib karayanya (cerpen) yang tidak dimuat ataupun dimuat suatu majalah.(Proses Kreatif, Mengapa dan Bagaiamana Saya Mengarang; PT. Gramedia, Jakarta; 1983 ) :

1.       Cerpen “Datang dan Perginya” dan Cerpen “Anak Kebanggaan”, pada mulanya dikirimkan oleh Navis ke majalah Kisah, tapi ditolak oleh redaksinya. Lalu diubah judulnya, kemudian dikirimkannya lagi ke majalah Mimbar Indonesia, dan dimuat. Perlu diketahui, di kedua majalah tersebut nama H.B Jassin tercantum sebagai redaksinya. Maka boleh jadi seleksi pertama oleh redaksi Kisah tidak jatuh pada H.B Jassin, tapi pada orang lain. Sedang di Mimbar Indonesia H.B Jassin-lah penyeleksi utama.

2.       Cerpen “Angin dari Gunung” dikirimkan oleh Navis ke majalah Prosa, ditolak oleh redaksinya. Lalu dimuatkan oleh Navis dalam kumpulan cerpen “Robohnya Surau Kami”. Dan ternyata diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman, dan diterbitkan sebagai antologi bersama cerpen 27 orang pengarang lainnya

Hal di atas, hanya merupakan seklumit kisah dari seorang sastrawan dalam meniti karirnya  di bidang sastra. Selera redaktur bisa sangat berperan penting terhadap suatu karya-karya yang akan dimuat nantinya. Jadi, secara kasarnya, seorang penulis yang ingin karyanya dimuat (dalam hal ini cerpen atau sajak) haruslah mengetahui terlebih dahulu selera dari redaktur—penjaga—rubrik dari suatu surat kabar/majalah.

Contoh-contoh tadi diperkuat lagi Navis, bahwa sebelum cerpen-cerpennya dikirimkan untuk dimuat, ia pertimbangkan lagi untuk dikrimkan ke mana, tentunya agar cerpen itu bisa dimuat. Jadi, ia juga ikut meneliti “keadaan” redaksi dari suatu majalah/surat kabar, yaitu bagaimana “selera” redaksi tersebut, atau bagaimana pola kebijaksanaan majalah/surat kabar bersangkutan. Kalau hendak mengirimkan ke majalah wanita, jangan kirimkan naskah cerita yang menjelekkan wanita. Kalau cerita itu bertema masalah yang romantis, jangan dikirimkan ke majalah berstandar sastra, seumpama Horison. Dengan demikian pengenalan tentang selera redaksi setiap majalah mempunyai peranan penting pula sebagai penentu, dapat tidaknya suatu cerpen dimuat pada majalah/surat kabar bersangkutan.

Jenis media, demi mudahnya, dapat dibedakan menjadi dua golongan besar, yakni: media umum dan media khusus.

1.     Media umum, seturut statusnya, bersifat umum, memuat hal-hal yang umum (apa saja bisa masuk), dan ditujukan kepada pembaca umum (siapa pun: tanpa batasan usia, jenis kelamin, ras, agama, status sosial, dsb.). Karena statusnya yang demikian itu, media jenis ini pada umumnya memacak tulisan yang sederhana dan lugas, sehingga bisa diterima siapa pun.

2.     Media khusus, seturut statusnya yang khusus itu, bersifat khusus, memuat hal-hal yang khusus (misalnya: ilmu pengetahuan populer, interior, otomotif, keagamaan, dsb.), dan ditujukan kepada pembaca yang khusus pula (pemuda: cowok-cewek; wanita dewasa; anak-anak; orang lanjut usia, kelompok hobi; komunitas keagamaan; dsb.). Karena statusnya yang demikian, kecuali menuntut topik-topik khusus, media ini juga menuntut gaya tulisan atau gaya bahasa khusus pula, yang khas.

 

Daftar Pustaka
 

Laitafani, Nurul. 2011. “Penerapan Media Gambar Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Mengarang Deskripsi Sederhana Pada Siswa Kelas III SD Negeri Panggung 13 Kota Tegal”. Skripsi. Semarang. Fakultas Ilmu Pendidikan. Universitas Negeri Semarang.

Zuchdi, Darmayanti, dan Budiasih. 2001. Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Kelas Rendah. Yogyakarta: PAS

 Suparno,  Yunus  Mohamad.  2008.  Keterampilan  Dasar  Menulis.  Jakarta: Universitas Terbuka.

Syarif,  Eliana  dkk.  2009.  Pembelajaran  Menulis.  Jakarta:  Departemen Pendidikan Nasional


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Terima kasih telah berkunjung di blog saya, semoga bermanfaat. Jangan lupa komen ya