Special-Cerpen Kansa Izzati A.

 


- SPECIAL -

Kansa Izzati A.

 

   Rano. Ia tinggal di daerah Dinoyo Kota Malang. Si anak bungsu dari 3 bersaudara. Anak paling sempurna diantara kakak-nya. Bisa membaca, menulis, bahkan berhitung juga bisa. Walaupun ia paling sempurna, tak pernah ia di spesial-kan dalam keluarganya. Kak Fania dan Kak Nadini. Mereka adalah kakak Rano. Kak Fania tidak bisa melihat. Sementara Kak Nadini kaki-nya lumpuh karena kecelakaan yang di alaminya. Ayah dan Bunda selalu memberi kasih sayang penuh pada Kak Nadini dan Kak Fania. Rano merasa perlakuan kedua orang tuanya itu tidak adil.

‘Kata semua teman jalananku, aku paling sempurna. Kak Nadin dan Kak Fani, bukankah mereka punya kekurangan?. Namun kenapa malah aku yang dikucilkan?. bukankah seharusnya aku yang disayang?. dunia ini sungguh tidak adil!’. Itulah yang ada di pikiran Rano ketika melihat kedua kakak-nya di peluk Ayah.

Rano mungkin tidak pernah berfikir apa yang dirasakan kedua kakak-nya itu. Terutama Kak Nadini. Kak Nadini-lah yang menyelamatkan Rano kecil ketika mereka memungut sampah di TPA JAtimulyo, lokasinya ada di bantaran kali gang keramik. Dekat dengan kuburan. Ya, keluarga Rano adalah keluarga yang ada pada garis kemiskinan. Ketika itu, Kak Nadini si sulung sedang menggendong Rano kecil. Sambil menggendong Rano, Kak Nadini memungut sampah.

Waktu itu, Bunda sakit. Ayah harus tetap dirumah kardus untuk menjaga Bunda. Kak Fania kala itu masih umur 4 tahun. Jadi terpaksa Kak Nadini yang menjaga Rano kecil. Kak Nadini waktu itu hendak ke seberang jalan untuk mengambil sampah botol. Tiba tiba sebuah motor melaju cepat dari arah berlawanan. Kak Nadini memeluk Rano, dan berusaha menuju jalan tadi. Sangking paniknya, Kak Nadini tersandung dan jatuh. Kaki Kak Nadini mengenai bagian motor. Sayangnya, jalan itu sepi. Tidak ada yang membantu kak Nadini. Namun Kak Nadini tak menyerah. Ia menggendong Rano kecil yang menangis. Lalu perlahan Kak Nadini berusaha berdiri. Berjam jam, akhirnya sampai juga Kak Nadini di rumah.

Malam itu, adalah malam yang indah. Bintang memenuhi langit yang indah. Rano menggunting celengan miliknya yang terbuat dari kardus. Banyak sekali uang Rano di celengan itu. Uang itu ia dapatkan dari hasil kerjanya memunguti sampah. Rano ter kagum kagum melihat uangnya. Sejak dulu, ia simpan celengan itu untuk sekolah. Rano berlari menuju tempat Ayahnya berada. Namun sesampainya di tempat tujuannya, Rano melihat Ayah tertawa bersama Kak Fania. Samar samar Rano mendengar percakapan mereka.

“Fani, jika kamu bisa melihat lagi dan sempurna. Maka Ayah ingin bisa mewujudkan seluruh keinginanmu. Namun jika kamu tidak bisa kembali, maka Ayah akan beri seluruh kasih sayang Ayah untukmu” kata Ayah sembari tersenyum dan melihat bintang dilangit.

“Fani tidak butuh semua itu Ayah. Fani hanya butuh keluarga Fani. Fani ingin Ayah tetap memeluk Fani. Kapanpun” jawab Kak Fani.

“Kalau begitu, kemarilah. Ayah akan tetap memelukmu!”. Dan benar saja. Ayah memeluk Kak Fania. Rano menunduk.

‘Apa kata Ayah tadi?. kenapa harus menunggu Kak Fani sempurna?. aku saja sudah sempurna. Namun…’ pikir Rano.

Rano tak kuasa lagi menahan tangisnya. Ia menjatuhkan celengannya. Lalu pergi menjauh dari rumah. Pergi menjauh. Hingga bayangnya tak terlihat.

‘Aku akan pergi!. Kemanapun!. Selain rumaku!’ pikir Rano. Ia tetap berlari tanpa melihat arahnya pergi. Kak Nadini yang melihat kejadian itu tak bisa mengejar Rano. Tongkatnya sedang dicuci Bunda.

Kembali ke Rano…

Rano kemudian teringat salah satu teman jalanan-nya. ‘SAKA!’. Mungkin teman-nya yang satu ini bisa membantunya. Saka tinggal di sawah di daerah Candi Panggung. Jadi tidak terlalu jauh.

Namun, sesampainya dirumah Saka, ia hanya melihat tanah lebar terbentang luas. Rano baru teringat. Rumah Saka sering digusur. Karena di daerah Candi Panggung banyak pertokoan dan tempat makan. Lagi- lagi rumah Saka digusur untuk membangun tempat makan baru. Namun tanah itu masih sepi. Mungkin para pekerjanya akan mulai bekerja esok pagi.

 

“JAHAT!”. Rano hanya bisa ber-teriak. Sekencang kencangnya. Sambil meremas tanah yang ada di bawahnya. Menendang tanah. Hingga Rano sendiri terjatuh. Kesabarannya hilang. Rasa iri seakan memenuhi tubuhnya. Rasa kehilangan pun mengaliri tubuhnya.

“Saka?” ucap Rano lirih. Rano kembali menendang tanah. Lalu tak sengaja ia menemukan sebuah buku. Rano seperti pernah melihat buku ini. Lalu ia teringat ketika masa kecil nya dengan Saka.

“Rano, jika salah satu dari kita pergi, ikutilah peta ini. Kamu harus berjanji. Karena tempatnya menunjukkan tempat dimana album kita berada. Sengaja akan ku-kubur. Karena mungkin saja kita berpisah saat besar nanti. Inilah albumnya. Sekarang yuk kita kubur!” ucap Saka bertahu tahun lalu.

Slide memori Rano tentang itu seakan berulang ulang. Ia memeluk album itu. ‘Sekarang hanya ini yang kupunya’ kata Rano dalam hati.

Sementara dirumah Rano…

“Nadin, ada apa denganmu nak?’ tanya Ayah lembut sembari mengusap kepala Kak Nadini lembut.

“Apa kau mengantuk?. Jika mengantuk, mari Ayah tuntun kau ke kamar” kata Ayah lagi.

“Rano mana Ayah?” tanya Kak Nadini.

Ayah tersenyum. Kemudian berkata. “Mungkin sudah tidur dikamar”.

“Aku serius Yah, dimana Rano?” tanya Kak Nadini dengan nada yang lebih tinggi.

“Mungkin dikamar. Kalau mau bertemu dengannya, ini tongkatmu sudah dicuci.

Ayo!” jawab Ayah. Tanpa berkata lagi, Kak Nadini meraih tongkatnya dan berjalan cepat menuju jalur yang dilalui Rano. Ayah yang kebingungan pun akhirnya segera mengejarnya. 

“Apa yang terjadi?. Mau apa kamu keluar malam malam begini?” tanya Ayah.

 

Kak Nadini akhirnya bercerita. Seluruh kejadian yang ia tau secara detail. Ayah terbelalak mendengar cerita Kak Nadini. Ia segera menggendong Kak Nadini. Dan berlari. Karena ia tau Kak Nadini tidak mungkin berlari.

Rano…

Diam dan tertidur di tanah kosong memeluk buku. Tiba tiba ada seseorang yang menggoyangkan tubuhnya. “Dek, jika mau tidur jangan disini. Tempat ini mau dipakai bekerja” kata seseorang yang mengenakan baju khusus berwarna merah. Rano pun segera pindah.

Setelah berjalan jauh, Rano akhirnya menumpang tidur di depan pertokoan. Disana ada banyak orang yang juga menumpang tidur. Dan salah satunya adalah..

“SAKA!” teriak Rano.

“Rano,sedang apa kau disini?. bukankah kau punya rumah kecil?” tanya Saka.

“Ada sesuatu yang ingin ku ceritakan”. Rano bercerita sedetail detailnya. Saka berkata pada Rano.

“Kau masih beruntung Rano. Kamu mempunyai keluarga yang sempurna” kata Saka.

“Sempurna apanya?. bukankah aku sudah bilang kalau kakak kakak ku tidak sempurna?” tanya Rano bingung.

“Rano, sebenarnya, mereka sempurna. Keluargamu utuh. Tidak seperti keluargaku. Tanpa keluarga yang utuh, kamu akan hidup dalam lubang kehilangan. Mereka sebenarnya sayang padamu. Coba kau buka album kita halaman 10. Waktu itu kau masih ingat cerita itu” kata Saka.

Rano langsung membacanya. Tentang cerita betapa sayang Kak Nadini padanya. Ya, itu cerita kecelakaan waktu itu.

“Saka, aku harus pulang!” kata Rano pada Saka. Mereka berpelukan, lalu Rano pergi dan Saka melambaikan tangannya.

Rano berlari menuju jalurnya tadi. Di perlimaan jalan, Rano bertemu Ayah dan Kak Nadini. Mereka berpelukan, Rano menangis. Kini ia merasa spesial, karena keluarga yang ia punya pun spesial. Seberapapun cobaannya, Rano akan mengutamakan keluarganya. Karena keluarganyalah yang paling spesial.

 

PROFIL

 

Nama                          : Kansa Izzati Adine

Kelas                           : 4 SD

Umur                           : 10 tahun 4 bulan

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.