SANG PANGERAN & JANISSARI TERAKHIR


SANG PANGERAN & JANISSARI TERAKHIR
Penulis: Salim A. Fillah
Tebal: 632 hlm.
Dimensi: 16x23,5 cm
Cetakan: 1, November 2019
ISBN: 978-623-7490-06-7
Penerbit: Pro-U Media, Yogyakarta
Resensi : Faza Mohammad Ihsan Habibi (4A)

Sangat seru, asyik...

Sang pangeran dan janissari terakhir sebuah karya yang menarik tentang kisah Sang Pangeran Diponegoro.

Sebuah cerita perang sabil antara pasukan  Diponegoro melawan tentara Belanda.

Tersibak sebuah hubungan antara kekholifahan ustmani dengan kesultanan mataram di Jawa.

Cerita dimulai dari kediaman Sadrazam wazir agung turki yang sedang menghadapi pembrontakan beberapa janissari di sublime porte,wazir agung memerintahkan beberapa orang prajurit elit dan katib pasha untuk menyelamatkan petra putrinya keluar dari istambul.

Sejak petang hari kelabu itu, Nurkandam pasha dan adiknya Nuryasmin, kedua bocah yatim itu bersama pengawalya yang akan memulai petualangan ribuan mil ke timu memenuhi sebagian mimpi Sang Ayah, setelah memuaskan diri mereguk aliran pengetahuan di tepian Nil, menyesap napas peradaban ribuan tahunnya di Istambul, dan menadah curahan berkah disisi Ka’bah.

Di sesi berkutnya, mulailah masuk cerita pergerakan perjuangan Diponegoro dan pasukannya melawan belanda.

Bergabunglah prajurit elit utsmani dengan pasukan Diponegoro. Belanda dengan muslihatnya selalu mencari jalan untuk megalahkan Diponegoro.

Melalui Patih Danurejo IV Belanda memengaruhi keraton agar mau bekerja sama dengan Belanda.

Sebenarnya Belanda sendiri kesulitan secara ekonomi sehingga Daendels mendapat tugas dari Raja Louis Napoleon untuk mempertahankan Hindia Belanda atas nama kerajaan, Membenahi pemerintahan bobrok wariasan VOC, tingkatkan pendapatan Kerajaan dari segala sumber.

Namun, Daendels hanya mandapatkan catatan utang di Batavia.

Kesulitan untuk menaklukkan Pangeran Diponegoro begitu penuh evaluasi, biaya yang besar membuat belanda membuat muslihat dengan segala cara mereka gunakan.

Diceritakan juga bahwa belanda membeli orang orang ya bisa di beli dengan uang, sebagaimana diceritakan ada orang yang menyusup di markas Diponegoro orang bayaran Belanda

“Awas, kangjeng pangeran!” Teriak Basah Katib yang langsung menubruk pria bersenjata api itu hingga keduanya rubuh berguling bersama sementara salah satu tangannya membidikkan pistol Duval buatan Nantes-nya ke arah tiga orang berpakaian santri yang sudah memburu Sang pangeran dengan pedang terhunus
Dhuarrrr..........  Dhuarrrrrr.............

Begitulah Belanda selalu membuat tipu daya .

Berbagai usaha belanda untuk mengalahkan Diponegoro tidak berhasil.

“Akhirnya Belanda menawarkan perdamaian dan pengampunan kepada Kangjeng Sultan Diponegoro. Mendengar tawaran yang sangat merendahkan Kangjeng Sultan Diponegoro, malah tidak ada seorang pun yang menggubrisnya.”

Belanda juga membuat muslihat pada pengikut Diponegoro. “Ketika perundingan dengan Kolonel Cleerens gagal, De Kock memerintahkan Letnal Kolonel Roeps dan Mayor De Stuers untuk terus membuntuti rombongan Kyai Mojo dan berhasil menjebak dia beserta 700 pengikutnya di Kembang arum. Saat itu, mereka terkepung. Mereka membaca ayat Al-Quran serta shalawat bersahutan dan menyatakan siap mati.”

Diponegoro begitu dicintai rakyat, sangat pantas jika belanda tidak dapat mengalahkannya. Di Hal. 524 diceritakan bahwa  kolonel Cleerens berkata “Dan dengan cara apa kita hendak mengalahkan orang yang sebegininya dicintai rakyat.
Jika kau ditakuti dan musuh dicintai, kau memang bisa mengalahkannya, kau bisa membunuhnya. Tapi kau akan tetap mati, sementara dia hidup abadi.”

Begitulah nilai kesalehan yang digambarkan dalam cerita seorang Sultan Ngabdul Kamit Diponegoro. Demikianlah nilai-nilai perjuangan diponegoro yang tak hilang dari sejarah dan membawa inspirasi bagi generasi selanjutnya. Nilai-nilai Islam dan kesolehan pribadi membangun semangat juang dalam menjaga agama, bangsa dan negara.

Buku ini sangat bagus untuk dibaca untuk membangun kecintaan terhadap perjuangan para pahlawan dan memberi sentuhan makna dengan bahasa yang menarik dan enak untuk dinikmati

.....Selamat membaca.......

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.